Saham: 14 kesalahan klasik yang dilakukan investor saham berulang-ulang

1. Terlalu toleran terhadap kerugian-kerugian kecil dan tidak mematok batas toleransi kerugian

2. Membeli ketika harga “anjlok”

3. Membeli ketika harga rata-rata turun (average down)

4. Suka membeli saham murahan ( berharga murah ) dalam jumlah lot yang banyak dari pada membeli saham yang berharga mahal dalam jumlah lot yang sedikit.

Banyak yang berpikir, lebih baik membeli saham yang masih berharga Rp 200, dari pada membeli saham yang berharga Rp 5.000. Mereka merasa dengan cara ini, uang mereka akan menghasilkan manfaat yang lebih besar lagi. Dalam pikiran mereka, saham yang berharga Rp 200 masih mungkin naik menjadi Rp 5.000. Sedangkan saham yang berharga Rp 5.000 sudah kecil kemungkinan naik lagi. Nah, anda mesti bersiap-siap untuk tercengang dengan kenyataan ini. Pikiran macam ini sangat konyol.

Harga saham akan naik bukan karena faktor berapa harganya saat ini, tetapi karena faktor kinerja perusahaannya, pertumbuhannya, prospek bisnisnya yang semakin besar dimasa yang akan datang.

  • Di tahun 2006, harga saham KIJA Rp 160, sedangkan harga saham INCO Rp 18.000.
  • Ditahun 2007 akhir ,saham KIJA masih bertengger dibawah Rp300, sedangkan saham INCO melesat mendekati Rp 100.000.

Mutu yang terbaik tidak mungkin dijual pada harga murah.

5. Ingin kaya mendadak.

6. Keputusan membeli berdasarkan rumor, kisah-kisah, rekomendasi para konsultan, opini para “ahli” di TV.

7. Memilih saham “lapis kedua” berdasarkan deviden atau rasio P/E

8. Tidak mau keluar setelah menyadari ada kesalahan

9. Membeli karena rasa “suka”

10. Tidak mampu memilah informasi yang baik

11. Takut pada saham yang baru saja mencapai harga tertinggi baru

12 Jarang bertransaksi pada posisi harga pasar.

13. Tidak berani mengambil keputusan saat diperlukan

14 Tidak obyektif menilai saham