14 kesalahan klasik yang dilakukan investor saham berulang-ulang

1. Terlalu toleran terhadap kerugian-kerugian kecil dan tidak mematok batas toleransi kerugian

Tidak seorangpun yang bisa membeli saham dan memastikan bahwa harga sahamnya tidak akan pernah turun dibawah harga belinya, terhitung sejak saham itu dibelinya. Investor tidak mungkin terhindar dari fluktuasi harga saham yang naik maupun turun. Namun ada patokan batas penurunan yang harus anda buat yang menjadi batas toleransi anda.

Semestinya investor dapat keluar dari bursa ketika kerugiannya yang dialami belum terlalu besar apabila investor melihat gelagat yang kurang baik. Namun investor tetaplah manusia yang sering bertindak dibursa terbawa emosi. Mereka tidak mau pasrah begitu saja menerima kerugian-kerugian kecil itu, sehingga mereka pun terus menunggu dan berharap, waktu demi waktu, hingga akhirnya kerugian itu justru makin bertambah besar. Inilah kesalahn pertama dan fatal yang dilakukan. Mereka tidak menyadari bahwa sifat perilaku bursa sangatlah spekulatif dan sering beresiko tinggi.

Tanpa pandang bulu, anda harusnya menghentikan setiap kerugian kecil itu sebelum menjadi besar. Rumusan yang bisa anda patok adalah,segeralah jual rugi saham anda apabila turun mencapai 8%, atau jual rugilah saham anda separo bila harganya turun 5%, lalu lanjutkan jual rugi yang separo lagi apabila harganya makin turun hingga 10%. Dengan mengikuti rumusan ini, anda akan mampu bertahan lebih lama dan mampu menyambar peluang-peluang berikutnya.

2. Membeli ketika harga “anjlok”

3. Membeli ketika harga rata-rata turun (average down)

4. Suka membeli saham berharga murah dalam jumlah lot yang banyak dari pada membeli saham yang berharga mahal dalam jumlah lot yang sedikit.

5. Ingin kaya mendadak.

6. Keputusan membeli berdasarkan rumor, kisah-kisah, rekomendasi para konsultan, opini para “ahli” di TV.

7. Memilih saham “lapis kedua” berdasarkan deviden atau rasio P/E

8. Tidak mau keluar setelah menyadari ada kesalahan

9. Membeli karena rasa “suka”

10. Tidak mampu memilah informasi yang baik

11. Takut pada saham yang baru saja mencapai harga tertinggi baru

12 Jarang bertransaksi pada posisi harga pasar.

13. Tidak berani mengambil keputusan saat diperlukan

14 Tidak obyektif menilai saham