CSR – Program Kemitraan

CSR (Coorporate Social Responsibility)

CSR – PT  Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk

Program Kemitraan

CSR (Coorporate Social Responsibility) yang dilaksanakan oleh PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk dibidang kemitraan sarana & pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Selain berpedoman pada Peraturan Menteri BUMN yang mengatur mengenai PKBL, pelaksanaan program ini juga mempertimbangkan keselarasan dengan potensi lingkungan masyarakat penerima program. Sasaran dari pelaksanaan program ini adalah para pelaku usaha kecil dan menengah (”UKM”).

Adapun sektor kegiatan usaha mereka meliputi industri, perdagangan, pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, jasa dan sektor lainnya. Program pelatihan dan pemberian pinjaman bergulir diberikan berdasarkan spesifikasi yang dibutuhkan dan disesuaikan dengan perkembangan dan potensi setempat pada kedelapan sektor tersebut.

Pada tahun 2011, Kami telah menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan yang berlangsung di seluruh Indonesia. Pelatihan kewirausahaan diikuti calon mitra binaan maupun mitra binaan peserta dengan total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp17,7 miliar. Pada periode yang sama, Kami juga menyalurkan pinjaman bergulir untuk para pelaku UKM yang menjadi mitra binaan. Total dana yang disalurkan mencapai Rp302,7 miliar dengan jumlah mitra binaan sebanyak 9.189 unit usaha.

Kami menindaklanjuti penyaluran pinjaman bergulir dengan melakukan pemantauan atas penggunaan, pengelolaan maupun tingkat pengembaliannya. Untuk memotivasi seluruh mitra binaan agar berusaha dengan sungguh-sungguh dan mengembalikan dana pinjaman tepat waktu, secara periodik dilakukan penilaian disertai pemberian penghargaan kepada mereka yang berprestasi.

Beberapa contoh kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pelatihan kewirausahaan yang diselenggarakan tahun 2011 adalah:

Indigopreneur

Pelatihan ini dibangun untuk usaha kecil menengah (“UKM”) yang belum menjadi mitra binaan Telkom dengan materi e-commerce, kewirausahaan dan perbankan, IT, imagineering mindset, self awareness and enterpreuners goal setting, bisnis kreatif dan platinum track.

Adapun tujuan program ini adalah:

  • Menjadikan industri usaha kecil menengah sebagai pilar ekonomi kerakyatan;
  • Meningkatkan kemampuan pelaku UKM dalam bidang ICT;
  • Mengoptimalkan kapasitas dan ketahanan pelaku UKM melalui pembentukan pola berpikir yang kreatif, inovatif, mandiri dan tangguh.

Selama tahun 2011, pelatihan berlangsung 5 (lima) angkatan yang diikuti oleh 631 peserta terdiri dari pelaku UKM di wilayah Jawa Barat.

Sari Apel Brosem (Bromo Semeru)

Brosem merupakan Mitra Binaan Telkom Community Development (“CD”) Area Jatim yang terpilih menjadi salah satu peserta lomba CSR tingkat nasional. Brosem merupakan industri minuman sari apel di Batu yang menghasilkan minuman segar khas dengan bahan baku yang banyak dihasilkan di daerah ini. Meskipun banyak industri sejenis dalam menghasilkan sari apel, Brosem mempunyai rasa yang khas menurut para pelanggan: anisnya pas dan tidak membuat tenggorokan serak.

Brosem juga merupakan mitra binaan unggulan bagi Telkom CD Area V Jatim. Disamping angsurannya sangat tepat waktu, pengelolaan serta perkembangan usahanya pun cukup pesat. Berbagai penghargaan telah diraih oleh Brosem, antara lain Penghargaan dari Gubernur Jawa timur, Semen Gresik Awards, Walikota Batu dan penghargaan secara langsung dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dengan kemampuan para pengelola yang tidak diragukan lagi, Brosem dapat menaikkan taraf hidup masyarakat dengan memanfaatkan potensi tenaga kerja ibu-ibu sekitarnya. Dengan demikian, dengan adanya Brosem sebagai topangan kebutuhan hidup sehari-hari, masalah sosial dan lingkungan dapat teratasi, Perkembangan Brosem diawali dengan dikucurkannya dana pinjaman bergulir dari program PK dan didukung oleh peningkatan sarana berupa BLC dibawah program BL.

Pada awal usaha, produk utama Brosem difokuskan kepada jenang apel. Namun seiring berlalunya waktu, fokus produksi beralih dari jenang apel menjadi minuman sari buah apel dalam kemasan sedangkan produk jenang apel menjadi produk sampingan. Keputusan untuk memproduksi sari buah apel disebabkan pemikiran bahwa sari buah apel lebih disukai oleh masyarakat karena kesegarannya. Selain itu, sari buah apel dapat dikonsumsi sehari-hari. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Brosem lihat website http://sariapelbrosem.com.

Kunci kesuksesan Brosem terletak pada kualitas produk dan manajemen usaha yang baik. Untuk menjaga kualitas produksi, Brosem memiliki pemasok tetap dari sebuah kelompok tani. Seluruh bahan baku yang digunakan juga merupakan bahan baku dengan kualitas yang baik, sehingga cita rasa Brosem tidak perlu diragukan. Kini, rata-rata produksi sari buah apel Brosem per bulan sekitar 300 dus sari buah apel dari berbagai ukuran kemasan. Namun, pada hari besar atau hari libur, produksi sari buah apel meningkat antara 400- 450 dus per bulan.

Rata-rata penjualan per bulan dapat mencapai Rp11,7 juta. Pertumbuhan laba dari beberapa tahun lalu hingga saat ini bertahan pada kisaran 15-30%. Hal ini menunjukkan bahwa Brosem sebagai sebuah usaha mandiri yang memiliki profitabilitas yang baik. Dalam kegiatan operasionalnya, Brosem mempekerjakan 25 tenaga kerja yang berasal dari masyarakat sekitar, 4 diantaranya adalah laki-laki dan 21 orang perempuan. Dalam mempekerjakan karyawan, Brosem menerapkan prinsip non diskriminatif sehingga setiap orang yang berkualifikasi dapat bekerja sebagai karyawan, tanpa membedakan suku, agama, jenis kelamin, pendidikan, atau pekerjaan. Sebanyak 200 pelaku UKM di Malang, Jawa Timur, mendapatkan pelatihan membangun ekonomi kreatif melalui internet di Gedung Graha Wangsa, Kelurahan Sisir, Kota Batu.

Pelatihan diselenggarakan Telkom bekerjasama dengan UKM Brosem (Bromo-Semeru).  Tujuan pelatihan adalah memperluas wawasan pelaku UKM dalam menggunakan fasilitas internet sehingga dapat memberikan dampak positif pada pengembangan usaha, termasuk memperluas area pemasaran. Materi pelatihan meliputi browsing hingga pengisian form produk dalam website, sekaligus pembuatan web. Selain itu juga, diberikan materi mencakup cara berkomunikasi dengan calon pembeli dan penyediaan form pembelian melalui internet. Para peserta juga disarankan untuk membentuk kelompok atau koperasi sehingga produk dan informasi yang ditampilkan dalam web menjadi lebih beragam serta variatif. Target yang ingin dicapai Telkom melalui pelatihan ini antara lain pelaku UKM kian kreatif. Tidak hanya dalam menjaga kualitas produk, tetapi juga menciptakan kemasan yang menarik sehingga mampu menguasai pasar. Pada akhirnya produk-produk tersebut diharapkan dapat masuk ke jaringan ritel modern yang menjalin kerjasama dengan Telkom.

Kampung Patin Desa Koto Masjid dan Pulau Gadang

Bagi masyarakat Riau, nama Desa Koto Masjid dan Pulau Gadang di Kabupaten Kampar sudah tidak asing lagi. Kedua desa ini sekarang dikenal sebagai kampung patin karena menjadi sentra penghasil ikan patin terbesar di Sumatera. Sebagian besar masyarakat di kedua desa ini hidup dari budidaya ikan patin. Luas kolam budidaya ikan patin mencapai lebih dari 50 hektar dan mampu menghasilkan ikan patin segar rata-rata empat ton per hari. Produk utamanya tidak hanya ikan patin segar dan pembenihannya, tetapi juga berbagai bentuk olahan di antaranya selai ikan patin. Jangkauan pemasaran meliputi kota-kota di Sumatera, bahkan Malaysia dan Singapura.

Perintis budidaya ikan patin di kedua desa tersebut adalah Suhaimi, SPd. Nominator Pelopor Indonesia CSR Awards 2011 Tingkat Perorangan ini memulai usaha budidaya ikan patin sebagai mitra binaan Telkom. Kesuksesan Desa Koto Masjid dan Pulau Gadang mengembangkan budi daya ikan patin merupakan hasil kerja keras dan kerjasama semua pihak, termasuk Telkom yang membantu dalam aspek permodalan dan pembinaan. Usaha budidaya perikanan ikan patin di desa Koto Masjid berkembang pesat.

Hingga saat ini, terdapat sekitar 776 kolam ikan patin dengan total luas sekitar 42 hektar. Setiap harinya usaha tersebut dapat menghasilkan ikan patin segar antara 3 sampai 4 ton. Pak Suhaimi membentuk CV Graha Pratama Fish sebagai nama usaha Pusat Pembenihan (Hatchery), Pembesaran Ikan (Aqua Culture), Pembuatan Pakan Ikan (Artificial Feed) dan Pengolahan Ikan yang berupa nugget, salai  dan kerupuk. Khusus olahan salai ikan patin, dari bahan asal 3 ton ikan patin akan dihasilkan 1 ton salai ikan patin. Sementara untuk nugget, setiap kali produksinya menghasilkan 60 kg nugget.

Tahun depan sentra pengolahan ikan patin akan dibangun dengan kebutuhan lahan sekitar 3 hektar dengan harapan mampu menyerap seluruh panen ikan patin Desa Koto Masjid yang selalu meningkat.

Sumber : Annual Report PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk tahun 2011

CSR – PT  Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk

CSR (Coorporate Social Responsibility)