Kesalahan klasik investor saham

“Perbaiki kelemahan anda sehingga dapat berubah menjadi kekuatan anda” Begitu kata Knute Rockne, pelatih sepak bola Amerika (American Football) kenamaan Notre Dame.

Bangkrutnya orang-orang dilantai bursa saham, atau perolehan keuntungan mereka hanya sedang-sedang saja, tidak lain karena mereka terlalu sering mengambil langkah keliru yang sama, yang dilakukan berulang-ulang. Kesalahan yang berakibat riskan ini dilakukan oleh para awam dan juga oleh mereka yang telah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun, berpengalaman dalam investasi saham. Pengalaman kadang-kadang bisa sangat berbahaya apabila hal itu justru membuat kita bertahan terhadap kebiasaan-kebiasaaan buruk.

Kesusksesan anda di bursa dapat diraih dengan cara menghindari kesalahan-kesalahan klasik dari mereka-mereka yang gagal. Berikut ini kesalahan-kesalahan yang harus anda hindari.

14 Kesalahan klasik investor saham

  1. Terlalu toleran terhadap kerugian-kerugian kecil dan tidak mematok batas toleransi kerugian
  2. Membeli ketika harga “anjlok”
  3. Membeli ketika harga rata-rata turun (average down)
  4. Suka membeli saham berharga murah dalam jumlah lot yang banyak daripada membeli saham yang berharga mahal dalam jumlah lot yang sedikit.
  5. Ingin kaya mendadak.
  6. Keputusan membeli berdasarkan rumor, kisah-kisah, rekomendasi para konsultan, opini para “ahli” di TV.
  7. Memilih saham “lapis kedua” berdasarkan deviden atau rasio P/E
  8. Tidak mau keluar setelah menyadari ada kesalahan
  9. Membeli karena rasa “suka”
  10. Tidak mampu memilah informasi yang baik
  11. Takut pada saham yang baru saja mencapai harga tertinggi baru
  12. Jarang bertransaksi pada posisi harga pasar.
  13. Tidak berani mengambil keputusan saat diperlukan
  14. Tidak obyektif menilai saham

1. Terlalu toleran terhadap kerugian-kerugian kecil dan tidak mematok batas toleransi kerugian

Tidak seorangpun yang bisa membeli saham dan memastikan bahwa harga sahamnya tidak akan pernah turun dibawah harga belinya, terhitung sejak saham itu dibelinya. Investor tidak mungkin terhindar dari fluktuasi harga saham yang naik maupun turun. Namun ada patokan batas penurunan yang harus anda buat yang menjadi batas toleransi anda.

Semestinya investor dapat keluar dari bursa ketika kerugiannya yang dialami belum terlalu besar apabila investor melihat gelagat yang kurang baik. Namun investor tetaplah manusia yang sering bertindak dibursa terbawa emosi. Mereka tidak mau pasrah begitu saja menerima kerugian-kerugian kecil itu, sehingga mereka pun terus menunggu dan berharap, waktu demi waktu, hingga akhirnya kerugian itu justru makin bertambah besar. Inilah kesalahn pertama dan fatal yang dilakukan. Mereka tidak menyadari bahwa sifat perilaku bursa sangatlah spekulatif dan sering beresiko tinggi.

Tanpa pandang bulu, anda harusnya menghentikan setiap kerugian kecil itu sebelum menjadi besar. Rumusan yang bisa anda patok adalah,segeralah jual rugi saham anda apabila turun mencapai 8%, atau jual rugilah saham anda separo bila harganya turun 5%, lalu lanjutkan jual rugi yang separo lagi apabila harganya makin turun hingga 10%. Dengan mengikuti rumusan ini, anda akan mampu bertahan lebih lama dan mampu menyambar peluang-peluang berikutnya.

2. Membeli ketika harga “anjlok”

Anjloknya harga saham sepintas lalu tampaknya merupakan momen yang terbaik untuk memborong saham, sebab harganya jauh lebih murah dari dibandingkan beberapa hari atau beberapa bulan sebelumnya. Anda harus bisa belajar memahami mana penurunan yang sifatnya normal di bursa dan mana yang tidak normal. Harga saham yang jauh merosot bisa jadi pertanda ada sesuatu yang tidak beres di perusahaan itu, atau mungkin juga bisa jadi anda sedang berada dalam situasi tren turun (bearish). Membeli saham yang merosot drastis tanpa mengenali normal tidaknya penurunan ini bisa membuat rekening anda menyusut drastis.

Tahun 2007, saya membeli saham CPRO diharga 740 (saat itu saya membeli lebih mengandalkan faktor teknikal). Besoknya sempat naik ke 780 namun ditutup diharga 760. Dua hari kemudian terjadi penurunan sehari yang besar (lebih dari 8%) dan volume perdagangan saat itu sangat besar. Ini adalah situasi yang tidak normal dimana volume yang besar justru terjadi pada saat harga saham turun. Hari itu saya tidak langsung mengambil tindakan, karena pengaruh emosi dan ego saya saat itu. Besoknya harga saham makin anjlok dengan volume makin besar, dan saya akhirnya menelan pil pahit dengan menjualnya di harga 580. Saya rugi lebih dari 20%. Disisi lain, salah seorang investor justru melakukan aksi beli karena harganya sudah terdiskon lebih dari 20% hanya dalam 2 hari. Dalam beberapa hari kemudian, harga saham makin merosot, dan bertahan dikisaran 350. Jika sebuah samurai selang meluncur jatuh, siapapun kesulitan menangkapnya tanpa terluka.

3. Membeli ketika harga rata-rata turun (average down)

Banyak investor membeli saat harga turun, lalu melanjutkan pembelian lagi dengan jumlah lebih banyak ketika harga makin turun. Begitu harga makin turun lagi, makin banyak lagi membelinya. Membeli dengan harga rata-rata turun (average down). Jika anda melakukan ini, anda mengikuti cara berpikir investor pecundang. Jika saham berlanjut penurunannya sudah pasti ada sesuatu yang tidak beres. Anda seharusnya memangkas kerugian, bukannya membeli semakin banyak.

4. Suka membeli saham berharga murah dalam jumlah lot yang banyak daripada membeli saham yang berharga mahal dalam jumlah lot yang sedikit.

Banyak yang berpikir, lebih baik membeli saham yang masih berharga Rp200, dari pada membeli saham yang berharga Rp5.000. Mereka merasa dengan cara ini, uang mereka akan menghasilkan manfaat yang lebih besar lagi. Dalam pikiran mereka, saham yang berharga Rp200 masih mungkin naik menjadi Rp5.000. Sedangkan saham yang berharga Rp5.000 sudah kecil kemungkinan naik lagi. Nah, anda mesti bersiap-siap untuk tercengang dengan kenyataan ini.

Pikiran macam ini sangat konyol. Harga saham akan naik bukan karena faktor berapa harganya saat ini, tetapi karena faktor kinerja perusahaannya, pertumbuhannya, prospek bisnisnya yang semakin besar dimasa yang akan datang. Di tahun 2006, harga saham KIJA Rp160, sedangkan harga saham INCO Rp 18.000. Ditahun 2007 akhir ,saham KIJA masih bertengger dibawah Rp300, sedangkan saham INCO melesat mendekati Rp100.000. Mutu yang terbaik tidak mungkin dijual pada harga murah.

5. Ingin kaya mendadak.

“Masalah dengan kepingin kaya secepat kilat tanpa parasut adalah kamu akan jatuh lebih cepat dan lebih jauh”. Demikian kata Ayah Kaya dalam Rich Dad’s: Guide to investing.

Para pendatang baru, yang diawal partisipasinya di bursa langsung mendapat untung mengira bahwa mereka jenius. Dalam situasi eforia bursa yang sedang tren naik (Bullish) memang mungkin saja seorang investor memilih saham secara asal-asalan dan mendapat untung. Mereka makin cepat menyambar saham ini, saham itu tanpa memperhatiakn lagi fundamental dan grafik pergerakan harga. Mana yang ramai diperdagangkan, itulah yang dibeli. Saat situasi berbalik, mereka terlambat mengambil langkah dan akhirnya merugi.

Berharap terlalu banyak dan terlalu cepat tanpa adanya persiapan yang memadai, pehaman metoda, peningkatan ketrampilan teknis serta disiplin adalah langkah awal kejatuhan anda.

6. Keputusan membeli berdasarkan rumor, kisah-kisah, rekomendasi para konsultan, opini para “ahli” di TV.

Banyak orang di bursa suka mempertaruhkan uang hasil kerja keras mereka pada apa yang dikatakan orang lain, bukannya belajar demi meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya untuk bisa menentukan sikapnya sendiri secara benar. Banyak rumor dan kisah-kisah yang menyesatkan anda. Kalaupun jika sekali waktu mereka toh benar, bukan berarti ini bisa dipakai sebagai patokan. Seringkali saham-saham harganya bergerak justru berlawanan dengan apa yang dikomentari di TV atau diulas di koran.

7. Memilih saham “lapis kedua” berdasarkan deviden atau rasio P/E

Faktor deviden dan rasio P/E (price earning ratio/rasio harga saham dibandingkan dengan labanya) tidak sepenting faktor pertumbuhan EPS (earning per share/laba per lembar saham).

Dalam banyak kasus, makin besar deviden yang dibayar oleh perusahaan, makin melemah harga sahamnya. Bunga yang harus mereka bayar untuk menyediakan dana itu kembali (setelah dana berkurang yang dibayarkan untuk deviden), cendrung lebih besar. Perusahaan-perusahaan yang kinerja sahamnya (harga sahamnya di bursa) yang makin baik, biasanya tidak mengambil langkah pembayaran deviden. Sebagai gantinya, dana itu mereka investasikan kembali kedalam aktifitas riset dan pengembangan atau kedalam bentuk-bentuk lain demi memperbaiki dan meningkatkan kinerja perusahaan.

Berkaitan dengan rasio P/E, maka saham yang memiliki rasio P/E ini bisa jadi disebabkan oleh labanya yang cendrung turun atau perusahaan sebelumnya berkinerja buruk, dimana harga sahamnya sudah turun jauh lebih dulu.

8. Tidak mau keluar setelah menyadari ada kesalahan

Banyak investor yang membeli saham yang “tidak dapat dibanggakan”. Membeli saham dari perusahaan yang merugi, pertumbuhan laba penjualan menurun, ROE nya rendah, dan juga bukan pemimpin pasar. Begitu menyadari bahwa salam yang dibeli adalah hasil pemilihan yang salah, enggan untuk mengakui dan tidak cepat keluar.

9. Membeli karena rasa “suka”

Diawal saya menjadi investor, saya menyaksikan beberapa investor yang kebetulan bekerja di Bank BRI. Hampir semua investor tersebut membeli saham BRI. Padahal pada waktu itu pemimpin pasar adalah sektor pertambangan. Ada rasa “suka” terhadap saham yang mereka beli karena kebetulan mereka bekerja di perusahaan yang sahamnya mereka beli. Menurut saya, pembelian semacam ini tidak obyektif. Yang anda cari adalah saham-saham yang akan memberikan keuntungan besar buat anda. Meskipun saham BRI yang mereka beli saat itu dalam beberapa bulan harganya naik, namun pemimpin pasar pada saat itu yaitu sektor tambang naik jauh berlipat-lipat meninggalkan kenaikan harga BRI.

10. Tidak mampu memilah informasi yang baik

Sahabat, kerabat, pialang dan konsultan anda bisa saja merupakan sumber dari semua nasihat yang justru menyesatkan. Hanya sedikit investor sukses yang bisa anda jadikan panutan. Pialang kenamaan, atau para konsultan investasi, tidak lebih cerdas dibandingkan para dokter, para tenaga IT, pengacara atau pedagang toko. Hanya satu dari sepuluh investor yang mampu memberikan informasi yang lebihb akurat. Pemain ynag sekedar lulusan perguruan tinggi tentu bukan kaliber profesional.

11. Takut pada saham yang baru saja mencapai harga tertinggi baru

Dengan mengamati grafik, anda akan dapat memisahkan mana saja saham-saham yang mampu menembus puncak harga tertinggi yang baru. Sembilan puluh persen investor takut pada saham yang harganya membubung tinggi. Namun perasaan dan opini investor tidak seakurat informasi yang diberikan oleh perilaku bursa itu sendiri. Grafik dapat memberi informasi lebih banyak dibandingkan opini-opini

12 Jarang bertransaksi pada posisi harga pasar.

Banyak investor menginginkan harga pembelian saham sesuai dengan harga yang mereka patok. Jika saham yang anda pilih anda yakini akan bergerak naik, kenapa anda mesti memasang order dengan harga murah. Meskipun fluktuasi harian harga saham mungkin saja menyebabkan order beli anda terpenuhi, namun saham-saham yang sedang mengalami akumulasi dan siap-siap naik besar-besaran akan meninggalkan anda dengan orderan anda

13. Tidak berani mengambil keputusan saat diperlukan

Kebanyakan investor hanya siap untuk melakukan aksi jual bila harga pasar diatas harga beli mereka. Banyak yang tidak tahu apakah situasinya membuat mereka harus melakukan aksi jual, atau harus menahan, atau justru menambah aksi beli. Ketidaktahuan dan ketidakberanian mengambil keputusan ini menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki panduan dan acuan.

14 Tidak obyektif menilai saham

Banyak yang menentukan pilihan berdasarkan favoritisme. Hanya karena saham BUMI pernah begitu merajai bursa dengan kenaikannya yang fantastis dalam beberapa bulan bukan berarti saat ini pemimpin pasar masih BUMI.

Artikel terkait :